Senin, 19 Agustus 2019 adalah hari pertama dimana aku menginjakkan kaki di Tanah Papua. Sebuah pulau yang menjadi perebutan bangsa-bangsa lain karena kekayaan sumber dayanya. Sebuah pulau yang selama 25 tahun ini hanya bisa aku bayangkan lewat literatur2 buku di sekolah ataupun lihat lewat saluran TV atau media sosial. Dan, sebuah pulau yang tidak pernah terbesit dibenakku bahwa aku akan mengunjunginya, bahkan tinggal selama beberapa tahun ke depan (insyaa Allah).
Sebuah kesempatan dan euforia yang luar biasa🥳.
Sebuah kesempatan dan euforia yang luar biasa🥳.
Perjalananku dimulai dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) menuju Bandara Udara Internasional Juanda pada Jum'at, 16 Agustus 2019. Yaps, karena penempatan awalku berada di Padang, Sumatera Barat sedangkan domisiliku berada di Sidoarjo, Jawa Timur. Jadi, sebelum aku menuju Bandara Udara Rendani di Manokwari, aku transit dulu ke Sidoarjo hehe 😅
Nah, kepindahanku ke Manokwari terkait dengan keikutsertaanku bersama suami, ya suamiku ditempatkan di Manokwari, Papua Barat. Kami sangat bersyukur, akhirnya kami dapat bersatu dari jarak yang memisahkan antara barat (Sumatera Barat) dan Timur (Papua Barat).
Suasana pada hari itu cukup memanas. Ketika
transit di Bandara Sultan Hasanuddin, aku diberitahu bahwa kondisi Manokwari,
Sorong, dan Jayapura sedang tidak kondusif. Beberapa demonstran membakar ban
dan tiang pohon untuk menutup akses jalan bahkan beberapa kios pun menjadi
sasaran massa. Kondisi tersebut merupakan
respon masyarakat papua atas dugaan kasus rasisme di asrama mahasiswa
Papua, di Surabaya Jawa Timur yang terjadi menjelang HUT RI ke 74 Tahun. Info
lebih lengkap, silahkan baca https://www.cnbcindonesia.com/news/20190819104210-4-92888/dipicu-penyerbuan-asrama-di-surabaya-demo-di-manokwari-ricuh.
Nah, kepindahanku ke Manokwari terkait dengan keikutsertaanku bersama suami, ya suamiku ditempatkan di Manokwari, Papua Barat. Kami sangat bersyukur, akhirnya kami dapat bersatu dari jarak yang memisahkan antara barat (Sumatera Barat) dan Timur (Papua Barat).
![]() |
| Perjalanan Menggunakan Pesawat selama 11 jam 5 menit |
Ketika transit di Bandara Sultan Hasanuddin, penerbanganku harus delay selama 8 jam, dari yang seharusnya berangkat pukul 02.30 WITA menjadi pukul 10.30WITA. Tiba di Bandara Undara Rendani, aku agak berdebar-debar sebab aku mendengar informasi bahwa sedang terjadi kerusuhan di Manokwari dan inilah kali pertama aku berpetualang ke Pulau Cenderawasih. Untungnya pada saat itu, ada 2 orang teman kantor yang satu penerbangan denganku. Perasaan cemas ku pun sedikit berkurang.
Kami tidak bisa langsung menuju mess karena berdasarkan informasi yang kami dapat akses jalan ditutup. Alhasil, teman2 kantor pun tidak bisa menjemput. Setelah menunggu beberapa jam di teras kedatangan (departure), akhirnya kami memutuskan untuk naik ojek yang mangkal dekat bandara. Untungnya 2 teman kantorku tersebut mau membantuku membawa koper dan oleh2 (maklum, karena baru kali pertama datang, aku membawa oleh2 cukup banyak untuk seluruh subbagian di kantorku).
Kami memesan 4 ojek, 3 diantaranya kami tumpangi, sisanya khusus disewa untuk koperku. Itulah pertama kali, aku berinteraksi langsung dengan penduduk asli setempat. Ternyata, kaka (panggilan mas/mbak di Papua) ojek tersebut ramah dan baik.
Kami memesan 4 ojek, 3 diantaranya kami tumpangi, sisanya khusus disewa untuk koperku. Itulah pertama kali, aku berinteraksi langsung dengan penduduk asli setempat. Ternyata, kaka (panggilan mas/mbak di Papua) ojek tersebut ramah dan baik.
![]() |
| Lokasi Kerusuhan dekat Kantor pada 19 Agustus 2019 |
Beberapa akses jalan yang kami lewati ditutup oleh para demonstran, solusinya kami harus mencari jalan alternatif lain. Jarak Bandara Udara Rendani dengan kantor pun sangat dekat, yaitu 3,6 km menggunakan mobil (sekitar 1o menit).
Awalnya, aku khawatir akan dicegat oleh para demonstran. Alhamdulillah, sambil terus berdoa sepanjang perjalanan, akhirnya aku pun tiba di mess dan bisa bertemu dengan suami tercinta setelah 1 bulan berpisah. Perjalanan yang kami tempuh pun lewat jalur alternatif menggunakan sepeda motor juga tidak terlalu lama kurang lebih 15 menit.
Awalnya, aku khawatir akan dicegat oleh para demonstran. Alhamdulillah, sambil terus berdoa sepanjang perjalanan, akhirnya aku pun tiba di mess dan bisa bertemu dengan suami tercinta setelah 1 bulan berpisah. Perjalanan yang kami tempuh pun lewat jalur alternatif menggunakan sepeda motor juga tidak terlalu lama kurang lebih 15 menit.
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?


Comments
Post a Comment